Today News

Tampilkan postingan dengan label Knowledge. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Knowledge. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Januari 2011

Don't Put Your Eggs In One Basket, Really?

(managementfile – Risk) – Pepatah lama mengatakan `do not put all our eggs in one basket`. Namun Mark Twain juga punya quote yang terkenal yakni `Put all your eggs in one basket and WATCH THAT BASKET`. Meskipun pepatah pertama lebih popular, namun sesungguhnya keduanya bisa menjadi dasar dari strategi manajemen risiko. Hanya saja, implementasinya tentu saja tergantung pada situasi. 

Ilustrasi gambar (sumber: dreamstime.com)
Dilema menghantui setiap orang yang harus memutuskan diantara kedua pilihan tersebut. Misalnya dalam hal keputusan investasi: Jika Anda berinvestasi pada satu pilihan saja, jika pilihan Anda tepat maka Anda akan menang besar. Namun, jika salah, maka uang Anda berpotensi hilang semuanya. Sementara jika Anda melakukan diversifikasi maka Anda dapat mengurangi risiko, namun return Anda juga jadi terbatas. 


Namun risk management tidak terpaku pada investasi saja, namun lebih luas lagi seperti di bisnis (korporasi). Misalnya, dalam melakukan R&D, Anda dapat menggunakan dan mempertaruhkan seluruh sumber daya yang ada ke dalam satu proyek. Proyek ini bisa sukses karena sudah menggunakan sumber daya optimal, namun jika gagal, maka artinya seluruh sumber daya tersebut sia-sia saja. Atau pilihan lainnya Anda dapat mengejar berbagai proyek, dengan harapan salah satunya akan sukses, hanya saja jika Anda menaruh sumber daya terlalu sedikit juga berisiko. 


Jadi, mana yang terbaik, put your eggs in one basket and watch the basket atau diversifikasi?


Ketika pertama kali memulai terjun ke bisnis, seorang entrepreneur biasanya menaruh seluruh modal Anda ke dalam satu basket, dan memonitor basket tersebut terus menerus. `Put your eggs in one basket and watch the basket.` Selanjutnya, seiring berjalannya waktu dan pengalaman yang semakin banyak, baru dilakukan diversifikasi. Jika Anda sudah melakukan diversifikasi sejak awal, kecuali Anda punya sumber daya yang sangat banyak, maka jadinya malah kurang fokus. 


Jika Anda menaruh seluruh modal dalam satu keranjang saja, maka ketika gagal, kemudian gagal lagi, maka pasti Anda banyak memperoleh pengalaman dan pelajaran yang berharga mengenai bisnis tersebut. Fokus menjadikan Anda dapat belajar secara optimal, sehingga ketika kemudian Anda sudah memahami seluk beluk bisnis tersebut, selanjutnya Anda punya peluang yang besar untuk sukses. 


Jika modal terbatas, maka biasanya single basket lebih jadi pilihan. Jika modal besar, maka beberapa memilih untuk diversifikasi, dan seiring berjalannya waktu baru focus. Masing-masing punya risiko tersendiri.


Lalu ketika Anda punya keyakinan yang tinggi dalam suatu hal, maka pendekatan single basket adalah yang paling baik. Misalnya dalam hal investasi, jika dalam kondisi resesi lalu Anda masuk ke sector energi saja, maka Anda tentunya sudah memperoleh gain yang berlipat-lipat saat ini. Beda jika Anda melakukan diversifikasi ke beberapa sector, tentu return yang Anda peroleh tidak akan optimal. Jadi, single basket ini cocok diimplementasikan pada situasi dimana kita yakin terhadap hasilnya, ketidakpastian rendah, kita punya kemampuan yang tinggi untuk memonitor basket tersebut, serta basket yang kita pilih jauh lebih menarik dibandingkan dengan yang lain. 

Sementara itu, memilih banyak basket hanya dapat mengurangi risiko jika basket tersebut independent satu sama lain, atau tidak berkorelasi secara positif. Banyak basket juga sesuai digunakan jika sumber daya banyak, dan Anda punya kemampuan untuk melakukan diversifikasi. 

Intinya, ketika Anda mau menaruh dalam satu basket, maka `watch the basket` secara terus menerus, sehingga Anda akan punya pengalaman lebih terkait dengannya. Sementara itu, jika Anda mau diversifikasi, Anda pun harus siap dengan modal yang besar, serta return yang mungkin tidak terlalu tinggi.

Strategi Carry Trade dan Risk Aversion

(Vibiznews – FX) – Bagi para investor, istilah carry trade merupakan sesuatu yang sangat jamak didengar. Carry trade adalah sebuah kegiatan di mana investor membeli mata uang atau aset yang memiliki imbal hasil tinggi (high-yield) dengan menggunakan mata uang dari negara yang memiliki suku bunga rendah. Carry trade merupakan strategi yang cukup populer dalam trading valas. Dengan carry trade para investor dijamin akan memperoleh return baik dalam posisi jangka menengah maupun panjang.

Untuk dapat menjadi pelaku carry trade yang sukses, mengerti dan memahami peranan suku bunga dalam pasar valas menjadi sangat penting. Sebuah negara yang memiliki suku bunga tinggi akan menarik banyak modal masuk karena para investor mencari return yang tinggi. Karena itu dengan kenaikan suku bunga investasi akan masuk, elanjutnya hal ini akan mengakibatkan mata uang negara tersebut menglami apresiasi. Dengan demikian pergerakan carry trade, suku bunga akan menjadi sangat penting karena hal tersebut yang menentukan tingginya return yang akan diperoleh.
Iluatrasi gambar carry trade (sumber: http://forexwings.com)

Contoh yang paling jamak terjadi adalah carry trade yang diakukan oleh para investor dengan menggunakan yen. Yen merupakan mata uang yang paling banyak digunakan sebagai sarana carry trade. Kondisi ini terjadi karena suku bunga di Jepang merupakan yang paling rendah di dunia. Pada saat ini suku bunga di Jepang hanya sebesar 0.1%.

Dengan suku bunga rendah ini para investor dapat meminjam uang di Jepang dan menginvestasikannya di dalam aset lain yang memberikan imbal hasil tinggi. Aset tersebut dapat berupa mata uang di negara yang memiliki suku bunga tinggi, contohnya adalah aussie dan kiwi yang negaranya masih memiliki suku bunga sebesar 3%.

Selain dalam mata uang, carry trade juga dapat dilakukan pada bursa saham dan komoditas. Apabila bursa saham dalam kondisi yang bullish, kecenderungan carry trade akan semakin meningkat. Dengan demikian dapat dilihat bahwa yen cenderung mengalami depresiasi saat bursa saham bergerak naik.

Unwinding Carry Trade Sebagai Cara Risk Aversion

Unwinding carry trade adalah pada saat para investor menarik dana yang digunakan untuk carry trade. Kondisi ini akan mengakibatkan apresiasi mata uang yang lazim digunakan sebagai sarana carry trade.

Unwinding carry trade lazim terjadi di saat kondisi ekonomi sedang mengalami permasalahan, seperti juga yang sedang terjadi saat ini. Resesi global mengakibatkan bursa saham anjlok tajam dan memaksa bank-bank sentral di seluruh dunia untuk memangkas suku bunga.

Anjloknya bursa saham mengakibatkan imbal hasil yang diharapkan diperoleh dari saham akan turun, bahkan risiko yang dihadapi justru membesar. Dengan kondisi ini para investor carry trade akan menghentikan sementara waktu kegiatan carry trade mereka. Kondisi ini juga merupakan bagian dari proses >i>risk aversion.

Unwinding carry trade juga dapat terjadi apabila rilis data indikator dalam negeri negara tujuan carry trade menunjukkan situasi yang buruk. Para investor lazimnya memilih negara yang ekonominya baik sebagai tujuan carry trade. Data ekonomi yang buruk akan mengurangi minat terhadap carry trade, dengan demikian mata uang yang digunakan sebagai sarana carry trade akan menguat sementara mata uang tujuan carry trade akan melemah.

Minggu, 09 Januari 2011

DASAR HUKUM PERDAGANGAN FOREX

 Pertanyaan terpenting bagi investor forex, sebelum melakukan investasi adalah bagaimana legalitas perdagangan forex? Kemana harus melapor jika terjadi kesalahan perdagangan yang menyebabkan kerugian pada investor? Perdagangan forex masuk dalam perdagangan berjangka, di bawah pengawasan Departemen Perdagangan, dan diatur dalam bentuk undang-undang, yaitu UU No. 32 Tahun 1997. Ini dilakukan karena sifat bisnisnya yang kompleks, berisiko tinggi dan melibatkan banyak pihak di dalamnya. Dengan adanya, 
kepastian hukum maka masyarakat dapat terlindungi dari praktik-praktik perdagangan yang merugikan.  
  
Pengaturan Perdagangan Berjangka 
Ada dua lapis pengaturan di dalam perdagangan berjangka. Lapis pertama dilakukan oleh Bursa Berjangka dalam hal ini Bursa Berjangka Jakarta/BBJ dan lembaga kliring berjangka dalam hal ini Kliring Berjangka Indonesia/KBI melalui self regulation. Lapis kedua dilakukan oleh Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), yang mewakili pemerintah (Departemen Perdagangan). Ketiga lembaga itu bersama-sama mengatur perdagangan berjangka di Indonesia agar tercipta pasar berjangka yang adil dan jujur.
  
Pengaturan Perdagangan Forex 
Karena termasuk dalam perdagangan berjangka maka perdagangan forex diatur dalam UU  NO 32 tahun 1997, khususnya bab VII. Undang-undang ini mencakup ketentuan mengenai hal-hal yang bersifat umum, kelembagaan, perizinan, mekanisme perdagangan, pembukuan/pelaporan dan penerapan hukum. 
  
Bab VII dari UU No. 32 Tahun 1997 mengatur pelaksanaan perdagangan berjangka yang antara lain membahas pedoman perilaku pialang berjangka, yaitu perusahaan yang diberi hak melaksanakan order jual dan beli nasabah atau investor. Pasal 51 dari Undang-undang perdagangan berjangka ini menjelaskan bahwa pialang berjangka sebelum me1aksanakan transaksi kontrak berjangka untuk nasabah, berkewajiban menarik margin  dari nasabah untuk jaminan transaksi tersebut di mana margin tersebut dapat berupa uang dan/atau surat berharga tertentu. Pialang berjangka wajib memperlakukan margin milik nasabah termasuk tambahan dana hasil transaksi nasabah yang bersangkutan sebagai dana milik nasabah.   
Dana milik nasabah ini wajib disimpan dalam rekening yang terpisah dari rekening pialang berjangka di bank yang disetujui oleh Bappebti. Dana simpanan itu hanya dapat ditarik dari rekening terpisah, untuk pembayaran komisi dan biaya lain sehubungan dengan transaksi kontrak berjangka dan/ atau untuk keperluan lain atas perintah tertulis dari nasabah yang bersangkutan.  

Dengan jaminan pasal 51 UU no. 32 Tahun 1997 ini, investor tidak perlu khawatir dana yang disetornya ke perusahaan pialang akan disalahgunakan. Meski demikian, bukan berarti investor bo-leh memilih sembarang pialang,  harus dicermati juga kapabilitas dan kredibilitasnya.  
  
Badan Pengawas 
Salah satu kelebihan dalam berinv estasi diperdagangan berjangka khususnya forex dengan adanya badan pengawas dari pemerintah. Di dalam UU No. 32 Tahun 1997 pemerintah Indonesia menetapkan bahwa Badan Pengawas perdagangan berjangka merupa-kan unit kerja yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Menteri Perdagangan, yang bernama Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti).   

Takut, Serakah, dan Harapan dalam Trading

(Vibiznews – Options) - Seorang yang sudah lama menjalankan tradinginvestasi secara aktif, umumnya akan sampai pada suatu kondisi memahami atau semakin lama bertambah memahami bahwa psikologi perdagangan(trading psychology) sangat penting peranannya dalam aktivitas trading. Seorang penulis pernah memastikan bahwa kalau kita bertanya kepada siapapun trader yang sukses atas pertanyaan berikut ini: Apa yang paling penting dalam trading? Jawabnya adalah “Belajar menguasai emosi Anda sendiri”. Itulah yang bukan hanya penting, tetapi paling penting!!

Emosi yang paling sering dihadapi investor, dan ini secara klasik sudah diakui seluruh dunia, adalah: “Fear and Greed” . Masalah takut dan serakah. Kalau mau ditambahkan lagi dengan satu kata lain adalah “hope” atau harapan. Seorang investor misalnya akan tergoda untuk menjual secepatnya karenatakut nanti porsi keuntungan akan berbalik arah menjadi kerugian. Terlalu cepat, padahal untung yang lebih besar tersedia kalau mau sedikit lagi bersabar. Tetapi bisa juga, terlalu lama menahan dan tidak segera menjual karena serakah. Selalu merasa tidak puas dengan hasilnya, akhirnya kerugian yang datang menjerat karena pasar yang segera balik arah, misalnya. 

Bagaimanapun takut, serakah dan harapan adalah bagian dari kepribadian manusia. “Bagaimana tidak takut, bukankah uang kita ada di situ?,” demikian pikiran sebagian investor. “Jangan sampai dan kalau bisa jangan pernah rugi.” Yang terakhir ini merupakan pendapat yang sudah bercampur dengan serakah. Serakah bukan hanya mau yang sebanyak-banyaknya sampai menjadi tidak rasional, tetapi juga mental yang tidak mau rugi sama sekali. 

Harapan bahwa pasar akan bergerak seperti yang kita mau, seringkali mengacaukan logika dan metode trading seorangtrader. Tetapi itu sering dan lazim bagi investor, bukan? Harapan ini dapat membawa kita kepada keputusan tebak-tebakan.Cap-cip-cup. Sekalian saja dengar apa suara tokek malam ini. Kita putuskan ambil posisi duluan lalu berharap pasar yang akan mengikuti pas sesuai keinginan atau harapan kita. Pembaca budiman, bukan kita yang menggerakkan pasar. Kita yang harus bergerak mengikuti pasar. Tidak mudah mengatasi godaan perasaan seperti ini, tetapi demikianlah pentingnya belajartrading psychology. Belajarlah terus, setelah ini.

Seorang great trader Wall Street kelas dunia lainnya, dengan pengalamantrading selama 35 tahun, yang juga menjadi partner kami dan kerap datang ke Indonesia adalah Courtney Smith. Sebagai tokoh hedge-fund managernamanya dihormati dengan analisisnya yang selalu menjadi acuan para traderdi Wall Sreet. Penulis dari lima buku investasi terkenal terbitan John Willey & Sons, dalam salah satu sesi coaching -nya di Indonesia pernah menyampaikan sesuatu pernyataan yang menarik perhatian saya. Dia sangat sering menang trading, dengan rata-rata hanya menggunakan waktunya sehari 15 menit saja. Tentang emosi dia katakan bahwa dia tidak ada lagi perasaan antusias dalam trading. Sering hanya kebiasaan saja dan bahkan cenderung “membosankan” atau mencapai kondisi bosan (boredom).Mengherankan? Tetapi dia diakui sebagai great trader dan punya banyak murid trader di berbagai belahan dunia, terutama Amerika dan Asia, termasuk Indonesia yang mengaguminya. Satu yang jelas bahwa emosi bukan masalah lagi baginya dalam trading.

Sampai di sini kita bisa pelajari bahwa minimnya keterlibatan emosi akan memberikan ketenangan bagi investor untuk secara disiplin menjalankan metode dan perencanaan trading-nya ( trading plan and methods). Secara fakta dapat dilihat bahwa ketidakkonsistenan dalam investasi banyak menjebak dan mendatangkan keputusan yang salah dan pada akhirnya loss!Tentunya bukan itu harapan di antara kita sebagai investor, bukan?

Mengontrol emosi bukan hal yang mudah. Pada kenyataannya di sini sumber kekalahan terbesar para investor umumnya. Tetapi mulailah untuk menguasainya. Umumnya emosi yang salah dalam tradingadalah trader suka menyalahkan yang lain! Kita bisa mulai dari sini, yaitu belajar bertanggung jawab terhadap keputusan investasi kita sendiri. Keuntungan ataupun kerugian yang terjadi perlu dipelajari dari waktu ke waktu. Sembari proses berjalan Anda akan melihat diri Anda lebih tenang dan confident. Ini penting, karena sejalan dengan itu Anda akan melihat rekening trading profit Anda bertambah. Selamat belajar!

Gambar Source: fortunewatch.com


Ap/AP/VBN

Rabu, 08 Desember 2010

Scalping Pada Valas, Konsep Dan Prakteknya.

Dengan semakin maraknya perdagangan valuta asing yang didukung oleh perkembangan teknologi internet, minat masyarakat secara global untuk melakuakn investasi pada perdagangan ini semakin meningkat.

Semakin meluasnya minat investasi pada perdagangan forex ini juga mendorong investor untuk mengembangkan metode dan strategi perdagangan sehingga dapat mengoptimalkan profit dan menekan resiko.

Salah satu metoda dan strategi yang mendapat minat luar biasa dari investor forex adalah strategi “scalping”, yang merupakan metoda trading yang diuntungkan dengan adanya fasilitas instant execution pada perdagangan valas.

Scalping secara sederhana dapat dijabarkan sebagai “ strategi untuk memperoleh profit dengan cara membuka posisi baik sell ataupun buy, dan menutup posisi tersebut sesegera mungkin setelah posisi yang dibuka menghasilkan profit”.

Pada strategi scalping, faktor manajemen resiko merupakan aspek yang menjadi perhatian utama dan hal ini adalah salah satu hal yang menyebabkan mengapa semakin banyak investor/trader yang berminat menggunakan strategi ini.


Ilustrasi Dasar Scalping


Teradapat banyak variasi dalam metoda dan startegi scalping, namun ciri khas dari metoda ini adalah “ mengambil profit sedikit dalam waktu sebentar dan melakukan transaksi dalam frekuensi yang relatif sering”.
Secara sangat sederhana pelaksanaan praktek scalping dapat digambarkan sebagai berikut :



Gambar diatas merupakan chart M5 pada perdagangan valuta asing pair GBP/USD 11 November 2010.Dengan metoda dan strategi scalping yang sesuai, maka investor atau trader dapat membuka posisi sebanyak 4 kali seperti yang terlihat pada gambar diatas.

Pada posisi 1 , potensi profit yang dapat diperoleh adalah sekitar 20 pips dan dapat diperoleh dalam waktu sekitar 40 menit , pada posisi 2 adalah sekitar 23 pips selama 20 menit, posisi 3 sekitar 15 pips selama 35 menit dan posisi 4 sekitar 15 pips selama 25 menit. Sehingga dalam satu hari perdagangan dengan melakukan scalping, investor atau trader setidak-tidaknya akan melakukan 4 kali transaksi, bahkan mungkin lebih dari itu.


Kendala Praktis.


Dengan metoda scalping, investor/trader pada umumnya tidak membuka posisi terlalu lama, bahkan tidak jarang juga yang membukan hanya dalam hitungan puluhan detik dan mengambil net profit hanya 2-4 pips. Investor/trader tersebut melakukan dengan frekuensi yang sangat sering hingga tidak jarang ada yang mampu membuka transaksi puluhan kali dalam satu hari perdagangan.


Namun demikian, praktek scalping pada umumnya menghadapi kendala, salah satunya adalah kendala dari sisi broker. Pada perdagangan valas retail, terdapat beberapa boker yang tidak mengijinkan dilakukannya scalping. Broker tersebut akan memperlakukan berbeda kepada investor yang melakukan scalping.

Hal lain yang dapat dilakukan oleh broker adalah dengan mempersulit entry atau exit posisi dengan sering terjadinya re-quote. Pada saat perdagangan tengah berlangsung terkadang sulit bagi investor/trader untuk entry/exit pada posisi yang diinginkan, walaupun dijanjikan adanya fasilitas instant execution.

Sehingga dengan demikian, walaupun metoda scalping sangat menjanjikan namun pada prakteknya belum tentu dapat dilakukan dengan baik. Salah satu cara mengatasi hal tersebut biasanya invstor/trader mencari broker valas yang benar-benar mampu memberikan fasilitas instant execution.

TOP 10 TRADING THOUGHTS

  1. You only have three choices when you are in a bad position, and it is not hard to figure out what to do: (1) Get Out, (2) double up, or (3) spread it off. I have always found getting out to be the best of all three choices. 
  2.  No opinion on the market or you are doubtful about market direction? Then stay out. Remember, when in doubt, stay out.   
  3. Don’t ever let anyone know how big your wallet is, and don’t ever let anyone know how small it is either
  4. If you snooze, you lose. Know your markets, when they trade, and what reports will affect the market price. 
  5.  The markets will always let you in on the losers; the market’s job is to keep you out of winners. Dump the dogs and ride the winning tide.
  6.  Stops are not for sissies.
  7. Plan your trade, than trade your plan. He who fails to plan, plans to fail.
  8. But the rumor and sell the fact. Watch for volatility in these situations; it usualy marks tops or bottoms in the markets.
  9. Buy low, sell high. Or buy it when nobody wants it, and sell it when everybody has to have it!
  10.   It’s okay to lose your shirt, just don’t lose your plants; that is where your wallet is.

Rabu, 24 November 2010

CFD vs Trading Saham Biasa


CFD memiliki beberapa perbedaan dengan transaksi saham biasa. Perbedaan-perbedaan itu adalah:
1.    Modal yang diperlukan
Katakanlah kita membeli 1000 lembar saham ABC di perdagangan saham biasa, dengan harga $10 per lembarnya, maka kita harus memiliki modal sebesar 1000 x $10 = $10,000. (Hasil perhitungan ini disebut juga dengan face value”, yang merupakan hasil perkalian harga saham dengan jumlah saham yang diperdagangkan.)
Di CFD, berlaku leverage sebesar 5% (1:20), yang artinya kita cukup mengeluarkan modal (margin) sebesar 5%-nya saja, yaitu $500. Modal yang diperlukan untuk membeli 1000 lembar saham ABC tadi jauh lebih kecil.
Jika ternyata harga saham ABC naik, lalu kita jual di harga $11 per lembarnya, berarti kita mendapatkan keuntungan sebesar $1 per lembar saham. Berhubung tadi kita membeli 1000 lembar, maka keuntungan kita adalah 1000 x $1 = $1,000.
Jika kita melakukan transaksi saham biasa, modal yang kita perlukan tadi adalah sebesar $100,000. Artinya dengan keuntungan $1,000, profit kita hanya sebesar 10% dari modal.
Tapi ingat, di CFD modal yang kita perlukan untuk membeli saham ABChanya $500. Kita berhasil memperoleh profit $1,000, artinya keuntungan kita adalah 200% dari modal!


Transaksi saham biasa
CFD
Harga beli
$10
$10
Modal (untuk 1000 lembar saham)
$10,000
$500
Harga jual
$11
$11
Keuntungan
($11 - $10) x 1000 = $1,000
($11 - $10) x 1000 = $1,000
Tingkat pengembalian
10%
200%



2.    Bisa melakukan short
CFD memungkinkan kita untuk melakukan short (SELL) terlebih dahulu jika kita perkirakan bahwa harga saham tertentu akan turun. Pada perdagangan saham biasa, transaksi ini biasa disebut “short selling”, di mana hal ini tidak bisa dilakukan dengan bebas. Kalaupun bisa, akan membutuhkan biaya yang besar. Bahkan Bursa Efek Indonesia sudah melarang praktek short selling.
3.    Overnight charge (swap)
Overnight charge ini mirip dengan swap pada kontrak gulir. Ada overnight charge yang harus dihitung untuk setiap posisi terbuka yang mengalami overnight. Kita harus membayar swap jika transaksi kita yang overnight adalah transaksi BUY. Namun jika transaksi yang overnight adalah SELL, maka bisa jadi kita mendapatkan swap. Mengenai ini akan kita bahas di bagian tersendiri.
4.    Satuan kontrak (contract size)
Pada perdagangan saham biasa, satuan kontraknya adalah per lembar saham. Tapi pada CFD, satuan kontraknya adalah 1.000 lembar saham (untuk saham US dan Jepang) atau 10.000 lembar saham (untuk saham Hongkong) per lot-nya.
5.    Antrian
Kalau mau membeli ataupun menjual saham tertentu di bursa saham biasa, kita harus rela  berdesakan ‘mengantri’. Misalnya ketika kita ingin membeli saham ABC, maka kita harus menunggu antrian untuk bisa mendapatkan penjual saham tersebut. Sama halnya ketika kita ingin menjual saham ABC, kita harus menunggu juga untuk mendapatkan pembeli. Hal ini tidak berlaku di CFD dimana kita bisa mendapatkan pembeli dan penjual di saat yang sama ketika kita melakukan transaksi melalui komputer
Di CFD hal ini tidak berlaku.
6.    Spread
Spread yang berlaku di CFD sangat ketat (2 pips) dan cenderung tetap (tidak berubah-ubah) selama pasar dalam keadaan normal. Keadaan normal yang dimaksud adalah tidak ada gejolak harga yang terjadi akibat berita ataupun rumor yang beredar di pasar. Sementara di bursa saham biasa, spread sangat bervariasi cenderung berubah-ubah.
7.    Kepemilikan
Berbeda dengan transaksi saham biasa, di CFD kita tidak mempunyai kepemilikan atas saham yang kita beli. Ini karena kita tidak pernah “membeli” sahamnya secara fisik. Ingat, yang kita lakukan hanyalah “membeli” atau “menjual” nilai kontrak atas saham tertentu. Meskipun tidak ada kepemilikan, namun kita tetap bisa memperoleh keuntungan dari pergerakan harga saham itu, sama seperti jika kita trading saham biasa.
Berikut ini adalah tabel perbandingan antara CFD dengan perdagangan saham biasa:
Perbandingan     
TRADING SAHAM BIASA
CFD
Modal (Margin)
100%
5%
Short sell
Mahal dan terbatas
Bisa
Dividen
Ada
Ada
Overnight charge (swap)
Tidak ada
Ada
Satuan kontrak
Per saham
Per Lot (=100 lembar)
Antrian
Ada
Tidak ada
Spread
Bervariasi
Tetap*
Kepemilikan
Ada
Tidak ada
* dalam kondisi pasar normal
sumber: http://www.mysmartfx.com/

Overnight Swap

Kontrak forex termasuk kontrak gulir, artinya transaksi yang kita lakukan (sering disebut dengan “posisi”) bisa kita close (tutup) kapan saja tanpa terikat batas waktu.
Terkadang kita harus membiarkan posisi kita bermalam, artinya tidak kita tutup pada hari perdagangan yang sama. Posisi yang belum kita tutup itu disebut posisi “terbuka” atau “open transaction”. Misalnya kita melakukan membuka posisi (BUY atau SELL) pada hari perdagangan Senin, namun posisi tersebut baru kita close pada hari perdagangan Selasa.
Transaksi seperti ini mengalami “overnight”. Untuk kontrak gulir, ada biaya finansial yang akan dibayar atau diterima untuk setiap posisi terbuka yang mengalami overnight. Biaya ini sering disebut dengan “swap”, ada juga yang menyebutnya dengan “overnight interest”. Besarnya bervariasi pada masing-masing pasangan mata uang.
Satu hari perdagangan yang kita bicarakan di sini tidak sama dengan 1 hari di Indonesia. Jadi bukan dari pukul 00.00 – 24.00 WIB, melainkan 24 jam waktu pembukaan pasar yang dimulai dari New Zealand hingga tutupnya pasar New York. Dengan kata lain, yang dianggap sebagai satu hari perdagangan adalah mulai pukul 03.30 pagi sampai pukul 03.30 pagi esok harinya (lihat lagi tabel waktu pembukaan pasar uang di dunia).
Contoh:
  1. Kita melakukan transaksi BUY pada hari Senin pukul 20.00 WIB, dan posisi itu kita close pada hari Selasa esoknya pada pukul 02.00 dini hari, maka transaksi kita BELUM mengalami overnight.
  2. Kita melakukan transaksi BUY pada hari Selasa pukul 02.00 WIB (dini hari), dan baru kita close hari itu juga tapi pada pukul 05.00 WIB, maka transaksi kita SUDAH mengalami overnight satu hari.
  3. Kita melakukan transaksi BUY pada hari Rabu pukul 23.00 WIB, dan baru kita close hari Kamis esoknya pada pukul 05.00 WIB, maka transaksi kita SUDAH mengalami overnight TIGA hari.
  4. Kita melakukan transaksi BUY pada hari Kamis pukul 02.00 WIB (dini hari), dan baru kita close hari itu juga pada pukul 05.00 WIB, maka transaksi kita SUDAH mengalami overnight TIGA hari.
Ada beberapa catatan kecil yang perlu kita perhatikan, diantaranya: bahwa khusus dari hari Rabu ke hari Kamis dianggap overnight 3 hari, sedangkan dari hari Jumat ke hari Senin hanya dianggap 1 hari saja.
Untuk lebih jelasnya lihat gambar berikut ini:
overnight
Faktor yang mempengaruhi besarnya swap:
1. Bobot hari (lamanya overnight)
Konstanta rate”, yang berbeda-beda untuk setiap pasangan mata uang. Juga berbeda-beda untuk setiap posisi BUY dan SELL. Konstanta ini bisa positif, bisa negatif. Kalau positif, maka kita akan menerima swap untuk posisi terbuka kita. Tapi kalau negatif, maka kita harus bayar swap.
2. Banyaknya posisi terbuka.Nantinya, overnight swap ini akan dihitung secara otomatis oleh platform trading yang kita gunakan, jadi kita tidak perlu repot-repot lagi menghitungnya. Semua sudah tersedia lengkap. Namun jika Anda ingin tahu bagaimana cara menghitungnya, berikut ini adalah rumusnya:
Swap=(i x H)/360  x contract size x jumlah lot
Di mana: i = konstanta rate, dan H = bobot hari